Meltiades, Ketty Gebby (2025) Inisiasi Tunas Pisang Sibolon (Musa paradisiaea L.) Pada Media Murashige dan Skoog (MS) Secara In Vitro Dengan Penambahan Indole Butyric Acid (IBA) dan Benzyl Amino Purine (BAP). Other thesis, Universitas Katolik Santo Thomas.
Abstak dan Daftar Pustaka Ketty Gebby Meltiades.pdf - Published Version
Download (963kB)
Full Text Ketty Gebby Meltiades.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only
Download (3MB) | Request a copy
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan IBA dan BAP terhadap perkembangan eksplan Pisang Sibolon pada Media Murashige dan Skoog (MS) Secara in vitro pada tahap inisiasi kultur. Penelitian ini menggambarkan metode analisis yang bersifat deskriftif dengan pengamatan langsung secara visual. Perlakuan penelitian adalah pemberian IBA dan BAP pada media MS, yang terdiri dari 4 taraf konsentrasi yaitu:
M0 = Tanpa zat pengatur tumbuh (kontrol)
M1 = Menggunakan zat pengatur tumbuh IBA dengan konsentrasi 1,5 ppm
M2 = Menggunkan zat pengatur tumbuh BAP dengan konsentrasi 1,5 ppm
M3 = Menggunakan kombinasi zat pengatur tumbuh IBA dengan
konsentrasi 1,5 ppm dan BAP dengan konsentrasi 1,5 ppm
Masing-masing perlakuan terdiri dari 8 botol ulangan percobaan, dengan demikian jumlah satuan percobaan adalah sebanyak 4 x 8 = 32 botol percobaan. Parameter yang diamati terdiri dari perkembangan eksplan (persentase hidup, pucuk eksplan, akar eksplan, pucuk dan akar eksplan, bonggol atau pelepah eksplan yang membesar, stagnan eksplan, pencoklatan eksplan (browning), eksplan yang terkontaminasi (jamur, bakteri, dan jamur dan bakteri) dan eksplan mati). Hasil penelitian menunjukkan bahwa inisiasi tunas Pisang Sibolon pada media Murashige dan Skoog (MS) secara in vitro dengan perlakuan tanpa penambahan zat pengatur tumbuh (M0) menghasilkan eksplan hidup 100%, tetapi dengan pertumbuhan tunas dan akar yang lebih rendah. Perlakuan IBA (M1) menghasilkan pembentukan akar sebesar 25% pada minggu ke-8 dan munculnya akar sejak minggu ke-2. Secara fisiologis, IBA merupakan salah satu auksin sintetik yang efektif dalam pembentukan akar dan merangsang pembentukan kalus. Namun, tingkat pembentukan akar yang tergolong rendah menunjukkan bahwa meskipun IBA dapat merangsang pertumbuhan akar akan tetapi dalam kondisi tanpa dukungan hormon lain belum cukup optimal bagi eksplan dan didukung oleh faktor lainnya. Perlakuan BAP (M2) menunjukkan pembentukan tunas mulai tampak pada minggu ke-2 dengan persentase 37,5% hingga minggu ke-8. Secara fisiologis, BAP berperan sebagai sitokinin yang merangsang pembelahan sel dan dominansi tunas. Perlakuan kombinasi IBA dan BAP (M3) menghasilkan pertumbuhan eksplan yang terbaik dengan tingkat keberhasilan hidup 100%, pembentukan tunas sebesar 87,5%, pembentukan akar 50%, dan eksplan yang lengkap 50%. Namun, M3 juga menunjukkan tingkat kontaminsai tertinggi (75%). Eksplan stagnan ditemukan pada semua perlakuan, dengan persentase tertinggi pada M0 dan M2 (25%). Stagnansi ditandai dengan tidak adanya pertumbuhan tunas maupun akar selama masa inkubasi. Kondisi ini dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon, umur fisiologis eksplan yang kurang sesuai, atau stres akibat sterilisasi. Browning terjadi pada eksplan dengan intensitas tertinggi pada perlakuan M1 dan M2 (masing-masing 37,5%). Gejala ini muncul sejak minggu ke-2, Pencoklatan disebabkan oleh oksidasi senyawa fenolik yang dilepaskan dari jaringan eksplan saat mengalami luka atau stress, dan dikatalisis oleh enzim polifenol oksidasi.
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Subjects: | 600 Technology (Applied science) > 630 Agriculture |
| Divisions: | Fakultas Pertanian > S1-Agroteknologi |
| Depositing User: | Fitcroy Modestus Rumahorbo,S.S.I |
| Date Deposited: | 18 May 2026 04:15 |
| Last Modified: | 18 May 2026 04:15 |
| URI: | https://eprints.ust.ac.id/id/eprint/621 |
