Ginting, S.Emmya Anjelina Br (2025) Peran Penyuluh Pertanian dalam Proses Meningkatkan Produktifitas Jagung (Studi Kasus : Di Desa Gurubenua Kecamatan Munte, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara). Other thesis, Universitas Katolik Santo Thomas.
Abstrak dan Daftar Pustaka S.Emmya Ajnelina Br Ginting.pdf - Published Version
Download (1MB)
Full Text S.Emmya Ajnelina Br Ginting.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only
Download (2MB) | Request a copy
Abstract
S.Emmya Anjelina Br Ginting (210430018) “Peran Penyuluh Pertanian Dalam Proses Meningkatkan Produktivitas Jagung (Studi Kasus: Di Desa Gurubenua, Kecamatan Munte, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara)” dibawah bimbingan, Ir. Cyprianus P.H.Saragi, MS. Penelitian ini bertujuan; (1) Untuk mengetahui peran penyuluh pertanian dalam peningkatan produktivitas jagung di Desa Gurubenua. (2) Untuk mengetahui faktor-faktor yang menghambat efektivitas penyuluh pertanian dalam meningkatkan produktivitas jagung di Desa Gurubenua. (3) Mengetahui tingkat adopsi petani terhadap teknologi dan informasi yang di sampaikan oleh penyuluh pertanian di Desa Gurubenua. Penentuan daerah penelitian ditentukan secara “Purposive Sampling” atau sengaja, yaitu untuk menentukan sampel penelitian dengan beberapa pertimbangan yang bertujuan agar data yang diperoleh nanti bisa lebih mewakili (representatif). Populasi dalam penelitian ini adalah petani yang mengusahakan tanaman jagung Pioneer P36. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode stratified random sampling, yaitu teknik pengambilan sampel membagi populasi menjadi beberapa kelompok (strata) luas lahan. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung kepada petani di Desa Gurubenua, Kecamatan Munte, dengan bantuan kuesioner yang telah disiapkan sebelumnya. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari berbagai sumber instansi yang berkaitan dengan penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Peran penyuluh sebagai pembimbing berperan aktif dalam memberikan bimbingan teknis kepada petani termasuk dalam kategori setuju tapi tidak maksimal dengan skor 154,5 dengan rata-rata 4,04. Peran penyuluh sebagai organisator serta dinamisator peran ini mendorong petani bekerja lebih terarah dan saling berkoordinasi dalam mengelola usahatani termasuk dalam kategori setuju tapi tidak maksimal skor 164 dengan rata-rata 4,31. Peran penyuluh sebagai teknisi berperan membantu petani dalam penerapan teknologi pertanian hal ini dapat meningkatkan keterampilan petani dalam menerapkan teknologi dengan tepat termasuk dalam kategori setuju tapi tidak maksimal skor 154 dengan rata-rata 4,05. Peran penyuluh sebagai konsultan menjadi mitra diskusi bagi petani dalam menghadapi berbagai permasalahan dalam menghadapi berbagai permasalahan termasuk dalam kategori setuju tapi tidak maksimal 158 skor dengan rata-rata 4,15. Peran penyuluh sebagai fasilitator berperan dalam memfasilitasi petani memproleh sarana produksi serta menghubungkan petani dengan lembaga pemasaran dan pembiayaan termasuk dalam kategori setuju tapi tidak maksimal skor 159 dengan rata-rata 4,18. Faktor utama penghambatnya adalah waktu dan Sumber Daya Manusia (SDM) serta motivasi petani. Hasil analisis menunjukkan tingkat efektivitas kedua faktor berada pada kategori cukup efektif hingga tidak efektif, dengan presentase antara 60,73%–63,15%. Faktor motivasi Petani dengan presentase 63,15%, motivasi petani termasuk dalam tidak efektif. Petani tidak memiliki semangat yang cukup baik dalam mengikuti kegiatan penyuluhan, dan sebagian masih kurang aktif dalam menerapkan materi yang telah diberikan. Faktor ekonomi, kesibukan di luar kegiatan usahatani, serta hasil panen yang belum stabil turut mempengaruhi tingkat partisipasi mereka. Tingkat adopsi petani terhadap teknologi dan informasi pertanian yang disampaikan penyuluh berada pada kategori sesuai hingga sangat sesuai dengan rata-rata 3,62. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar petani sudah mampu menerima dan menerapkan inovasi teknologi dalam kegiatan usahataninya. Penerapan inovasi, petani menunjukkan tingkat adopsi yang tinggi dengan rata-rata 4,48. Sebagian besar telah menerapkan teknologi budidaya sesuai anjuran penyuluh seperti penggunaan benih unggul jagung P36.
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Subjects: | 600 Technology (Applied science) > 630 Agriculture |
| Divisions: | Fakultas Pertanian > S1-Agribisnis |
| Depositing User: | Fitcroy Modestus Rumahorbo,S.S.I |
| Date Deposited: | 20 May 2026 07:03 |
| Last Modified: | 20 May 2026 07:03 |
| URI: | https://eprints.ust.ac.id/id/eprint/652 |
